Showing posts with label My Experiences. Show all posts
Showing posts with label My Experiences. Show all posts

Sunday, June 7, 2015

Clash of Clans, Game Online by SUPERCELL

Halo hola.....
Iiiiiiihhh aku udah lama banget nih ga nulis. April Mei Juni, vakum banget ini blog, maaf ya Absolute Black-ku.
Sekarang kepikiran lagi nih buat nulis sesuatu. Seperti biasa, ada opini yang belakangan ini berkutat dalam otak aku, dan sepertinya harus aku  tuang dalam tulisan. Yaaa, mungkin memang ga penting banget sih, tentang game online Clash of Clans, game yang satu ini sebenernya udah lama banget launching-nya, cuma aku sendiri baru ikutan main itu baru sekitar dua bulan yang lalu, tetaptnya di awal April 2015. Para pembaca, terutama para gamers pasti udah pada tau banget, game online ini adalah game online khusus buat gadget kamu, bisa di download di appstore dan googleplay. Namun, kebanyakan gamers juga pasti udah pada tau, jika game ini ternyata juga bisa dimainkan di desktop PC kamu, dengan bantuan software lain tentunya, kalo aku sendiri sih, biasanya pakai software Bluestacks.

Penampakan bentengku saat awal-awal memasuki TH.7

Langsung aja ya sekarang aku bahas tentang game ini. Permainan ini merupakan permainan strategi, dimana kita harus membangun sebuah benteng, dan akan menyerang ke benteng orang lain. Pada awalnya kita diberi modal untuk mulai membangun benteng kita, berupa uang (coin), minyak (elixir) dan gems.

Menurut pendapat saya setelah memainkan game ini sekitar dua bulanan : Game ini memiliki tiga unsur penting. Yang pertama Townhall, yang kedua trophy (piala) dan yang ketiga adalah level. Ketiga unsur ini sepertinya saling berkaitan, namun sebenarnya tidak. Oke, untuk yang belum paham, sebaiknya aku uraikan mengenai tiga unsur tersebut.

Townhall
Townhal ini bisa dibilang adalah jantung dari benteng kita (para peamain COC, biasa menyebut dengan TH). Townhall dapat di upgrade levelnya dengan menggunakan koin, semakin tinggi levelnya semakin banyak uang yang dibutuhan untuk meng-upgradenya. Pada saat baru mulai memainkan game ini, townhall kita berada pada level.1, semakin tinggi level townhall akan semakin besar benteng kita. Semakin banyak perelengkapan-perlengkapan penunjang perang dan infrastruktur lain yang dapat kita beli dari market. Jika TH masih berada pada level kecil, terbatas juga perlengkapan yang dapat kita beli.
Pada saat perang, diserang ataupun menyerang, jika TH hancur, sudah pasti kita akan mendapat satu bintang, itu berarti kita menang, meskipun infrastruktur2 lainnya tidak hancur. Itulah sebabnya mengapa kebanyakan orang pada saat  penyusunan layout bentengnya, menempatkan TH berada di tengah-tengah.

Piala / Trophy
Piala ini kita dapatkan saat kita menang dalam menyerang benteng orang lain. Banyaknya yang kita dapatkan tergantung dari tingkat kesulitan benteng yang kita serang, range-nya mulai dari 5 sampai 32 tropy. Sebaliknya jika kita kalah, maka piala kita juga akan berkurang. 
Pada saat kita diserang dan kita berhasil menang bertahan, kita juga bisa mendapatkan piala, sebaliknya jika kita kalah bertahan, dengan sendirinya piala kita akan berkurang.

Level
Seperti kebanykan game-game yang lain, level  ini kita dapatkan dari poin experience. Exp ini biasanya kita dapatkan saat kita selesai membuat dan meng-upgrade semua infrastruktur yang ada dibenteng kita. Selain itu juga kita dapatkan saat kita membersihkan pohon-pohon dan rumput yang ada disekitar benteng. Bisa kita dapatkan juga saat kita berhasil menghancurkan TH benteng lain saat kita menyerang. Juga kita dapatkan saat kita clan war.

Nah balik lagi kemasalah hubungan antara ketiga unsur ini. Awalnya aku berpikir ketiga unsur memiliki keterkaitan satu sama lain, jika level tinggi maka akan semakin tinggi juga level TH dan akan semakin banyak juga pialanya. Mainstream-nya sih memang seperti itu, saat aku melihat pemain-pemain lain. Namun apa yang aku alami sendiri ternyata agak ga mainstream alias out of the box, hehehe...
Kasus yang aku alami adalah, level-ku masih terbilang kecil (level 40-an), TH sudah lumayan tinggi (TH.7), dan piala terbilang banyak untuk ukuran level segitu (piala : 1800-an), dengan piala 1800-an biasanya para pemain sudah berada di level 60 - 80. Dengan TH sudah berada di TH.8 sampai TH.10.
Akibat dari ketimpangan ini adalah, jika aku searching untuk serang benteng lain, komputer akan mencarikan benteng dengan banyak tropi yang kurang lebih sama dengan yang aku punya, sehingga alih-alih aku akan mendapatkan lawan yang seimbang, aku justru mendapatkan lawan yang jauh diatas, dengan benteng yang lebih besar dan defense yang sudah mumpuni. Sehingga sulit untuk menyerang. Berbanding, saat diserang, biasanya aku juga mendaptkan lawan yang diatas, dengan troops (pasukan) yang sudah banyak dan lengkap, sementara defense bentengku masih abal-abal, karena itulah aku jarang sekali menang bertahan.

Hmmm begitulah permainan ini, dan apa yang aku alami saat memainkannya. Untuk tips-tips dan trik-trik nya, mungkin aku belum bisa share, karen aku juga terbilang sangat newbie, bisa cari di blog sebelah, oke. Segini dulu dari aku ya, kalo ada tambahan, akan aku tulis lagi disini/

I'll see you guys, and thanks for reading...

Riezchi,,,

Wednesday, November 19, 2014

My Experience : Donor Darah di PMI Kota Bandung

Hai again..
Mau share pengalaman lagi nih.. Di hari yang sama aku tour naik bus Bandros, aku juga melakukan donor darah sukarela di PMI kota Bnadung, tempatnya berada di jalan Aceh No. 79, didekat Graha Siliwangi.

Sebagai pendonor pemula, perdana, aku diharuskan untuk mengisi formulir. Setelah mengisi formulir, lalu antri untuk diperiksa oleh dokter. Sempet gemeteran waktu diperiksa dokter, sampai-sampai tensi-ku melonjak tinggi hingga 220. Setelah diperiksa dokter, kita akan ngantri lagi untuk diperiksa golongan darah dan pengecekan hemoglobin dalam darah. Setelah serangkaian tes ini akhirnya aku diizinkan untuk melakukan donor darah, karena tekanan darah baik, zat Hb baik, dan tidak terdapat penyakit apapun. Alhamdulillah, sehat...

Tapi saat ngantri untuk melakukan pengambilan darah, aku sempat mau kabur loh, saking takutnya, lol.. tapi ditenagin lagi sama si Ari. Akhirnya aku pun menegarkan hati, untuk tetap maju memberikan darah-ku, hehehe...

Sebelum darah diambil, kita diwajibkan mencuci tangan kita dengan sabun sampai dengan siku. Setelah itu kita disuruh duduk di kursi untuk donor, bentuknya agak-agak mirip dengan kursi dokter gigi, posisinya juga bisa untuk berbaring, cuma bedanya ga ada lampu sorot aja. Mulailah proses dimulai, pertama-tama lengan bagian atas dibebat dengan semacam alat tensi, sampai terasa sesak sekali, lalu si petugas mencari dulu pembuluh darahnya, setelah dapat bagian itu akan disemprot dengan entah apa, lalu ditusuk deh dengan jarum, ditutup kapas dan plester lalu di hubungkan dengan kantong darah yang disempan di bawah samping kursi, berada diatas sebuah alat, yang tiap 10 detik sekali akan bergoyang-goyang sendiri. Kemudian si petugas berkata "kalo pusing atau mual, bilang ya.." "Iya.." jawabku.

Jarum di tusuk ke nadi, wajah sengaja di sensor, karena lagi meringis, hehe..

Proses transfer darah, dari badanku ke kantong darah kapsitas 350 cc.


Rasanya, kalo menurut aku sih sakit. Tapi ga sampe bikin kita nangis koq. Nah, FYI darah kita yang diambil dalam sekali donor ini dalah sebanyak 350 cc, dikit koq. Lamanya pengambilan darah itu, tiap orang berbeda-beda, tergaantung lancar atau tidaknya darah kita mengalir ke kantong darah. Paling cepat adalah sekita 5 menit dan paling lama adalah 15 menit, info ini adalah hasil wawancara dengan si mas-mas yang bertugas mengambil darah aku. Setelah selesai si petugas bertanya lagi, "pusing atau mual ga ?", dan anehnya aku tidak mengalami pusing atau mual ini sama sekali. Aku pun kemudian diizinkan untuk ke ruang istirahat.

Di ruang istirahat ini tempatnya seperti rumah makan, ada meja-meja, ada pantry. Disini juga aku mengambil kartu donor-ku. Kemudian aku dipersilahkan duduk di salah satu meja. Gak lama kemudian diantarlah beberapa makanan dan susu. Disini juga tersedia galon air putih, dan toples besar roti marie di tiap-tiap meja. Makanannya ada  bubur kacang hijau + roti gandum, 1 bolu kukus, 1 telur rebus dan 1 gelas kecil susu putih. Aku juga mendapat vitamin dan mineral dalam bentuk tablet. Disitu juga ada surat ucapan terima kasih.

Makanan di ruang istirahat.

Buat para generasi muda, ayo kita ramai-ramai menjadi pendonor sukarela, karena melakukan donor ini dapat memberikan kesehatan bagi tibuh kita dan hiutng-hitung check-up gratis loh. Dengan menjadi pendonor darah, ini kan menjadi triple win2, kita mendapat pahala dan kesehatan, PMI mendapatkan uang dari hasil penjualan darah, dan korban yang membutuhkan darah akan tertolong. Insya Allah barokah, amiiiin..

Keliling Bandung Naik BANDROS (Bandung Tour On Bus) : Seru Deh !!!

Hellow blogger,,
Aku mau share pengalaman nih, waktu nyicipin bus wisata yang lagi nge-hits banget di kota Bandung sekarang. Warga Bandung mah pasti udah pada tau dan kenal yah, sama yang namanya Bus Bandros, atau secara ga sengaja pasti lah pernah ketemu di jalan-jalan di kota Bandung, dengan bus merah, ala-ala bus di Eropa ini, hehe..

Nah, bermula dari seringnya bertemu dengan bus ini di jalan (bahkan pernah seperjuangan kena macet di jalan balubur, depan sabuga. Waktu itu si Bandros ini ada dibelakang aku. Dua kali berturut-turut pula..), karena tertarik melihat tampilannya yang unik, layaknya bus-bus yang ada di Eropa, bertingkat, dengan kanopi-kanopi, atap terbuka dan balkon, aku pun sangat berminat untuk dapat merasakan sendiri bagaimana sensasi menumpangi bus ini.

Pencarian informasi melalui internet pun dimulai. Setelah berselancar kesana kemari, dan menemukan official twitter-nya aku pun mendapat beberapa informasi yaitu : 
1. Bus ini beroperasi mulai dari jam 10 siang sampai dengan jam 5 sore.
2. Beroperasi dari hari Senin - Minggu, kecuali hari Jumat. Hari Jumat tidak beroperasi.
3. Satu rit operasi bus ini adalah satu jam, kecuali macet atau ada panggilan lain, misalnya ke balkot.
4. Untuk saat ini masih dikenakan tarif, yaitu IDR 10.000/orang dewasa, IDR 5.000/anak2.
5. Kapasitas bus ini adalah 40 orang.
6. Halte tempat naik bus ini berada di Taman Kandaga Puspa (sering dikenal juga dengan nama taman bunga), lokasinya berada di belakang taman lansia, satu komplek dengan Gedung Sate.
Untuk jam operasi (waktu ngobrol-ngobrol sama tour guide waktu aku berada di venue), tidak selalu dimulai dari jam 10 pagi. Belakangan ini, karena bus ini sudah semakin meningkat peminatnya jam operasional sering dimulai lebih pagi, yaitu jam 8 pagi.

Pose di depan Bandros. Keren kan bus-nya ?

Sekarang aku mau ceritain pengalaman aku naik bus ini. Waktu itu hari senin, aku memilih jadwal yang jam 10. Tapi waktu itu bus-nya ternyata sudah berangkat, dan sudah operasi sebanyak 2 rit. Menurut informasi dari pengelola, yang jam 11 dan 12 juga sudah penuh, jadi seharusnya aku kebagian yang jam 1. Tapi si pengurus menawarkan kalau mau naik yang jam 11, nanti mau di bicarakan dengan rombongan yang jam 11, apa boleh dua orang lagi ikut di bus ini. Kebetulan rombongan yang jam 11 ini adalah dari SD Kristen Yahya. Ternyata kami pun diizinkan ikut oleh Ibu Guru, terimakasih Ibu Guru :*..

Karena anak-anak SD yang lucu-lucu ini mengambil tempat diatas, maka kami kebagian tempat di bawah, yaitu di balkon-nya yang paling belakang. Seru deh !! Aku melihat ekspresi orang-orang yang melihat bus ini, pasti akan tersenyum atau tertawa. Ternyata kecerian di dalam bus tertular hingga ke orang-orang yang kebetulan berpapasan atau melihat bus ini.

Pose-ku di berbagai sudut. Kiri ke kanan : Diatas, di balkon belakang, interior dalam, di belakang Bandros, didekat tangga naik.


Rutenya waktu aku naik itu adalah dari Taman Bunga, terus menuju jalan Citarum, kmudian jalan dipenegoro, lewat Museum Geologi, terus lagi melewati Gedung Sate, masih jalan diponegoro, lalu berbelok ke jalan dago arah selatan, jalan merdeka (lewat balkot), terus melewati hotel Grand panghegar, jalan lembong, jalan tamblong, berbelok menuju jalan Asia-Afrika, Jalan braga, jalan lembong lagi, terus ke jalan veteran, berbelok ke jalan sunda, jalan sumbawa, berbelok kejalan banda (lewat rumah kentang), berbelok ke jalan riau, belok lagi ke jalan citarum, sampai deh ke halte di Taman Bunga.

Meskipun rutenya tidak terlalu jauh, tapi menurut aku pas, karena kalau terlalu lama pasti akan bosan. Pengalaman naik bus ini menurutku terbialng menyenangkan. Walaupun sepertinya sederhana, tapi ternyata sangat menyenangkan. Dalam bus ini ada dua orang tour guide, satu berada di lantai atas dan sarunya lagi berada di bawah, mereka akan memandu kita selama di perjalanan, memberi informasi-informasi mengenai sejarah-sejarah Kota Bandung. (Seperti misalnya, mengapa jalan IR. H. Juanda itu disebut jalan dago. Dago berasa dari kata 'ngadagoan' yang artinya menunggu. Karena jaman dulu kala masyarakat tinggal di sisi utara yaitu  di lembang, namun pekerjaan mereka adalah berdagang di pasar baru. karena jalan ini dulunya dalah hutan dan banyak binatang buas, mak untuk pergi bekerja mereka harus saling tunggu menunggu orang lain, agar dapat pergi bersama-sama. Lucu ya, aku juga baru tau loh, hehe..) Di bus ini juga ada satu orang security dan satu orang kondektur. Oia pramudi (pak supir) bus bandros ini menggunakan baju tradisional sunda loh, lengkap dengan topinya.

Eh.. ada Pak Supir..


Gimana, 
Warga Bandung yang belum sempat buruan cobain deh, atau jika ada wisatawan dari luar kota, bus ini fully-recomended deh buat kalian. Happy Holiday and make some noise....

Riezchi

Thursday, September 18, 2014

Review Kolam Renang Dulang Resort & Cafe : Dulang Infinity Pool

Helloooooow there..
aku lagi nih, hehehe..
Kemarin abis berenang di Dulang Infinity Pool Lembang yang udah kesohor kemana-mana itu. Jadi sekarang mau kasih review-nya buat yang lagi cari refrensi kolam renang yang lagi nge-hits ini. Check it out...

Berawal dari keinginan bakar kalori tanpa keringetan, karena lagi bosen banget nih, jogging mulu Sabtu Minggu, nah jadi lagi pengen carri warna baru, walhasil, berenang-lah yang jadi keputusan.
Lantas, cari-cari referensi deh di internet pengen mau berenang dimana, singkat cerita, Dulang Infinity Pool ini lah yang jadi pilihan. 
Tempatnya, yang udah sama-sama kita tau berada di Lembang, Jalan Pabrik Gitar, Cisarua Lembang. Dulang Resort & Cafe ini, (dari namanya aja udah ketahuan), sebenarnya merupakan resort, yang memiliki cafe dan juga kolam renang. Nah kolam renang di Dulang ini dibuka untuk umum dengan HTM IDR 30.000. Disini hanya terdapat dua kolam renang, yang terdiri dari 1 kolam renag dewasa dengan kedalaman rata +/- 165 cm, dan 1 kolam renang anak-anak dengan kedalaman +/- 50 cm. Dan hanya diisi oleh air dingin. Ada plus dan minus dari kolam renang ini, aku bahas plusnya dulu yaaa..

Nilai Plus Kolam Renang Dulang :
1. Kamar mandinya bersih, air yang keluar dari shower mengucur deras, lantai kamar mandi tidak becek, jadi kalo ganti baju aman.
2. Terdapat fasilitas mushala, mushala-nya juga keren dan bersih.
3. Pemandangan topcher, jarang-jarang sambil berenang dapat pemandangan cantik, view kota Bandung yang berada di lembah, subhanallah banget deh pokoknya.
Eiiiits, tapi jangan seneng dulu yaa, disamping tiga nilai plus diatas, ada juga loh nilai minusnya.

Nilai Minus Kolam Renang Dulang :
1. Tidak ada ruang ganti baju dan lokernya tidak ada kuncinya. Jadi kalo ganti baju ya di kamar     mandi.
2. Lokasinya sulit dijangkau.
3. Air kolamnya kotor, tidak bening, dan banyak kotoran.

Untuk poin no.2, lokasinya benar-benar sulit dijangkau dan tidak familier. Jika dari pasar Lembang kita ambil arah lurus yang kearah D'Ranch Lembang. Dari D'Ranch ambil lurus saja mengikuti jalan sampai menemukan tempat pelatihan POLRI yang berada di sebelah kiri jalan. Dari sana lurus kembali hingga menemukan pertigaan. Yang diseblah kiri jalannya masih besar, sementara yang belok kanan jalan sudah menyempit, Nah disini kita pilih jalan yang menyempit alias belok kanan. Lurus terus naik keatas sampai ketemu gapura besar di sebelah kanan jalan, amabil jalan itu. naik kembali keatas hingga menemukan Masjid besar, posisinya di sebelah kiri. Tepat sebelah Masjid itu, akan ada belokan kearah kiri, tepat diujung belokan, kita akan melihat tanjakan spekta dengan gradien kurang lebih 70 - 75 % atau kemiringan sekitar 60 derajat, hayooon jangan kalah sebelum perang gara-gara tanjakan ini yah, karena untuk mencapai tujuan, jalan inilah yang harus kita ambil. Nah, setelah kita melalui tanjakan yang spekta ini, kita terus saja mengikuti jalan, jangan belok-belok, sampai kita menumui papan penanda "Slow Down, Dulang Resort" Posisinya berada di sebelah kanan jalan, dan ada Gapura yang menaungi. Turunan menuju dulang cukup curam, dan setelah itu akan ada portal masuk Dulang. Just for your info, jalanan menuju Dulang ini, sangat amat sempit tertuama setelah tanjakan. Hanya muat satu mobil, waktu aku kesana kebetulan pas Weekdays, jadi tidak ramai, ga kebayang kalo harus papasan.
Pernah baca di blog sebelah, katanya kalau lewat PUnclut juga bisa, dari tempat makan di Punclut kita lurus saja sampai menemukan Gapura yang sama.

Udah segitu aja review dari aku tentang kolam renang Dulang Infinity yang lagi nge-hits ini.. Moga bermanfaat yaa.. Ini ada satu foto waktu aku lagi di dulang resort, tapi disini aku sebagai fotografernya yaa..
Penampakan kolam renang Dulang Infinity dengan Mommy sebagai model.. hihi..


See u... dan make some noiiiiiissssseeeeeee.... ^^
Nb. Untuk gambar-gambar yang lebih lengkap kalian bisa serching di google, banyak banget yang keren-keren loooh...

Riezchi here...

Sunday, May 18, 2014

Ngintip isi Gedung Sate Bandung

Hi Guys.......
I'll make some noise now, cause i'm happy... ^^
Kali ini aku mau ceritain pengalaman aku masuk ke Landmark paling terkenal dari kota Bandung, apalagi kalo bukan Gedung Sate.. Kenapa koq segitu bangganya bisa masuk ke Gedung Sate..?? Nah seperti yang kebanyakan orang tau ya,, Gedung Sate ini meskipun merupakan sebuah Landmark, namun tempat ini bukanlah tempat rekreasi atau tempat wisata seperti kebanyakan LandmarkLandmark lainnya. Gedung Sate ini merupakan Heritage yang dijadikan sebagai gedung pemerintahan. Yap, gedung ini-lah tempat ngantornya Gubernur Bandung dan team-nya, hehehehe.. So, otomatis, tidak semua orang bisa masuk ke dalam gedung ini guys...!!! Di pintu gerbangnya aja ada plakat bertuliskan peringatan "Bukan jalan umum. Yang tidak berkepentingan dilarang masuk !!!" Terus gimana ceritanya tu, koq malem minggu kemarin aku bisa masuk ke gedung bersejarah bagi kalangan terbatas ini,,, Uwooouuuww... Koq bisa.. koq bisa... ya bisa... simak cerita aku ya guys..


Bandung, 17 Mei 2014
Sore itu menjelang senja, cuaca di kamar tidurku dingin sekali, ya hujan memang sedang mengguyur kawasan tempat tinggalku, Bandung Tengah. Sambil malas aku mengecek BB-ku, iseng-iseng memeriksa personal massage teman-teman, disana aku melihat 'PM' si Ari, dia sedang kebingungan cari makan buat malam ini katanya. Didorong rasa bosan, aku pun berinisiatif mengajak Ari jalan-jalan sambil cari makan malam.

Singkat cerita aku dan Ari akhirnya memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu, sebelum jalan-jalan. Kami memilih salah satu tempat makan favorit di daerah Lodaya. Ditempat makan, seperti biasa, ada saja hal aneh yang kami jumpai, dan memaksa  kami untuk bergosip, hahahaha. Kami beranjak dari tempat makan sekitar pukul 20.45. Bingung harus kemana, akhirnya aku memutuskan untuk keliling kota saja, lagian aku juga bosan harus ke Mall terus. Dari lodaya terus ke palasari, burangrang, simpang lima, asia-afrika >> lewat Gedung Merdeka, ternyata lagi ada event juga di sini, pameran keris. Lanjut ke jalan braga, balai kota, wastu kencana, naik ke jalan riau, belok ke purnawarman, ranggagading (daerah kampus tercinta, yeeeiyy), balubur, lalu belok kiri ke arah jalan dago. Dari dago terus masuk ke jalan surapati. Di lampu merah alan surapati, aku melihat Gedung Sate yang terang benderang, dan sebelum aku sempat nyeletuk, si Ari udah nyeletuk duluan, "Kak, kita foto2 di Gedung Sate yuk..?" dan aku pun langsung mengiyakan.

Dimenit berikutnya, kami sudah berada di Gazibu. Dan malam ini benar-benar berbeda dari malam-malam lainnya. Gazibu dipenuhi oleh anak-anak muda dari berbagai komunitas. Mereka berkumpul berkelompok-kelompok, ramai sekali, padahal malam itu suhu udara cukup dingin, 22,4 derajat Celcius. Ada yang cuma sekadar bercanda, ada yang menyalurkan hobby mereka, tapi yang paling banyak adalah berfoto. Dengan kamera SLR dan DSLR andalan, kamera mereka keren-keren semua, mulai dari Canon sampai Nikkon. Dengan percaya diri kami hanya mengandalkan kamera Tab Samsung dan Blackberry, hahahaha. 


Awalnya aku dan Ari hanya melakukan sesi foto dari seberang Gedung Sate, yaitu di tepi Lapangan Gazibu, seperti yang kebanyakan orang lain lakukan. Namun, karena belum puas kamipun menyeberang dan mendatangi Gedung tersebut. Kami bertekad untuk masuk. Kebetulan malam itu sepertinya sedanga ada acara di Gedung tersebut, itulah mengapa Gedung Sate yang biasanya hanya diterangi lampu warna-warni pada bagian atapnya di malam hari, menjadi sangat terang benderang malam itu. Kami tidak mengetahui, event apa yang sedang digelar disana. Namun aku meyakini itu adalah sebuah acara pemerintah yang dihadiri oleh pejabat-pejabat tinggi.

Dekat nekat, kami mendekati gerbang utama sayap kiri, disana terpampang plakat, bertuliskan peringatan dilarang masuk. Disamping gerbang yang besar, ada pintu gerbang yang lebih kecil tempat pejalan kaki, dan didekatnya ada pos security besar yang terlihat nyaman. Kami berdiskusi di depan gerbang utama itu, mendiskusikan apa alasan kami meminta ijin pada security untuk masuk ke dalam. Sambil berdiskusi, aku memperhatikan keadaan sekitar, halaman gedung yang luas dan asri, pos jaga yang nyaman, bahkan pintu masuk utama Gedung Sate yang terbuka lebar (jarang sekali terlihat terbuka, bahkan di siang hari sekalipun), dan orang-orang yang lalu lalang di pintu tersebut. Saat itulah aku melihat seorang security dari pos jaga berjalan keluar dan menuju ke arah gedung. Akupun bertekad keras untuk masuk kehalaman gedugn itu.

Kami mendekati pintu gerbang kecil untuk pejalan kaki. Aku mengecek gerendel pintu yang terselot, disana juga terlihat gembok besar menggantung di gerendel, sempat agak kecewa menyangka pintu tersebut terkunci, namun aku tetap keukeuh menarik gerendel tersebut, dan alangkah senangnya ternyata bisa terbuka. Kami pun segera masuk. Kami berjalan santai menyusuri taman luas gedung tersebut. Dan buru-buru mengambil foto, kalau-kalau security menyadari kedatangan orang asing dan mengusir kami. Setelah mengambil beberapa foto, keadaan tampak aman, tidak ada security yang menghampiri kami, padahal malam itu banyak sekali petugas keamanan ini. Melihat keadaan yang aman, kami memutuskan untuk mengeksplor seluruh halaman gedung ini. Setelah puas berkeliling, kamu kembali ke centre of square, yaitu tiang bendera yang berdiri megah, posisinya persis di seberang pintu utama. Di pelataran itu ada beberapa orang yang sedang duduk sambil merokok, sepertinya mereka adalah pers. Mereka tampak mengenakan name tag. Kami pun ikutan duduk disana. Aku memperhatikan orang-orang yang keluar masuk dari pintu utama terseut, semuanya mengenakan name tag.

Didorong oleh rasa penasaran, kami memutuskan untuk masuk kedalam, sekadar hanya melihat bagaimana sih interior gedung yang selama ini populer dalam berbagai foto. Mengambil kesempatan dari secutity yang sibuk mengambil foto seseorang yang sepertinya penting, karena security2 tersebut bergantian untuk dapat difoto dengan orang tersebut. Aku mengatakan pada Ari bahwa orang itu pastilah pejabat tinggi.

Dengan nekat dan percaya diri, kami berjalan tanpa canggung dan malu memasuki gedung tersebut, 5 meter... 4 meter... 3 meter.. kami hampir berhasil, 2 meter... riuh rendah suara dari dalam gedung mulai terdengar jelas, 1 meter... kami mulai menaiki undakan tangga pualam, setengah meter... kami melewati gerombolan orang-orang yang sibbuk berfoto dan para security, daaaaannnnnnnn...... Yaaaaaapppp, kami pun berhasil melewati pintu utama yang tidak dijaga, kami masuk ke sebuah lobby luas, berbentuk hampir lingkaran. Ditengah-tengah sebuah meja bundar besar bertengger, diatasnya terdapat vas besar berisi bermacam bunga, di langit-langit sebuah lampu kristal indah menawarkan sinar lembut kekuningan. Part ruangan berikutnya kembali di pisahkan oleh tiga undakan anak tangga pualam lagi. Didasar tangga, disebelah kiri terdapat banner besar berisi foto sang Gubernur Jabar, Ahmad Heriawan, dan disebelah kanan juga terdapat banner yang sama, namun berisi foto Sang wakil Gubernur Dedy Mizwar. 

Kami terus melaju, menaiki undakan tangga tersebut. Disinilah keramaian terlihat. Di sayap kiri dan kanan ternyata adalah sebuah Aula besar simetris. Di sisi depan aula depan ini terdapt koridor panjang yang entah berujung kemana. Namun koridor ini terhubung langsung dengan aula besar di sisinya, dipisahakan oleh semacam partisi yang dapat di buka-tutup. Nah, dispenjang koridor ini banyak terdapat kamera-kamera media, dan sejumlah sound sistem, dengan kabel-kabel rumit. Di sayap kanan Aula besar, tampak seorang sedang berorasi di  atas panggung, di depannya sejumlah kursi dan meja di penuhi oleh orang-orang. Di sayap kiri, aula besar berisi meja-meja panjang prasmanan. Diatasnya tampak berbagai macam makanan dan minuman. Kontras dengan aula sayap kanan, aula yang telah disulap menjadi ruang makan ini, tampak lengang,hanya berisi beberapa orang saja, mungkin karena saat itu sudah pukul 10 malam.

Kami berjalan terus, dan mentok berhadapan dengan pintu ganda besar yang bagus, diatasnya terdapat plakat bertuliskan 'RUANG RAPAT'. Di kiri dan kanan ruang rapat tesebut merupakan sebuah koridor panjang yang melintangi dua koridor yang saya ceritakan di awal tadi. Ruangan dalam gedung ini sepertinya serba simetris. Kami lantas memutuskan untuk ke toilet, lagi-lagi dengan percaya diri saya menayakan kepada cleaning services yang berlalu-lalang dimana letak toilet. Ternyata toilet wanita berada di sayap kiri dan toilet laki-laki terletak di sayap kanan, kamipun berpisah jalan. Letak toilet persis berada di ujung koridor. Seperti halnya toilet di Gedung Merdeka, toilet ini juga memiliki keunikan, bergaya lama namun tetap modern, magis, hard to explain, menurut saya keren.

Keluar dari toilet, saya kembali menelaah bagian ruang lain sebanyak yang saya mampu. Kemabali saya menemui koridor panjang, persis di sisi depan bagian samping toilet, koridor ini terlihat gelap. Di ujung bagian depan koridor, yang berlawanan dengan toilet, saya melihat adanya tangga melengkung, yang juga terbuat dari pualam. Sempat tergerak untuk menjelajah tangga ini, dan melihat lantai atas, namun bagian itu juga terlihat gelap dan jujur agak-agak mengerikan.

Setelah cukup puas dengan tour singkat kami di gedung ini, kamu memutuskan untuk keluar, sebelum ada security yang mengusir kami. Kami kembali melewati lobby utama, dan berpapasan dengan komedian komeng, dan seorang dari srimulat yang saya tidak tahu namanya. Orang ini adalah orang yang saya sangkakan pejabat penting tadi, saat di antri foto bareng oleh security saat di depan tadi. Kami kembali melewati jalan masuk kami tadi, melewati gerbang kecil yang kembali saya pasang gerendelnya. Syukurlah pos security masih kosong, sehingga kami tidak perlu repot-repot memberi penjelasan jika ditanyai oleh security.

Masih excited, kami masih belum beranjak meninggalkan gedung ini, masih berdiri di depan gerbang utama, kali ini di sayap kanan. Di situ kami melihat baligho besar yang dibawahnya ada foto komedian Komeng. Dari situ juga kami mengetahui, bahwa acara yang sedang berlangsung di dalam itu adalah sebauah acara Musyawarah Besar Persatuan Pelawak Indonesia.
Pelataran gedung mulai ramai di datangi oleh segerombolan anak-anak muda yang ingin berfoto. Sepertinya mereka juga sangat penasaran ingin bisa masuk ke gedung bersejarah ini. Namun tidak satu pun dari mereka yang berani masuk.

Kami lalu bertanya-tanya, apakah benar gedung ini memang tidak boleh dimasuki. Jangan-jangan sebenarnya memang boleh. Kami pun menghapus rasa penasaran ini dengan mendekati pos security di sayap kanan, dan bertanya kepada security jaga yang berdiri di luar pos, apakah kami boleh masuk ke dalam. Ternyata kami tidak di perbolehkan, si securiity menjawab hanya dengan gelengan kepala dengan sombongnya. Hahahaha....
Rasanya ingin sekali saya berkata begini pada si security sombong itu "Waduh pak, tapi kita barusan dari dalam, sudah pake toilet segala, untung tidak makan malam sekalian tadi di ruang makan, hahaha.." Ya, saya yakin, jika tadi kami dengan cueknya masuk keruang makan, mengambil piring, dan mengambil makanan, tidak akan ada satu pun orang yang akan menegur kami, karena ruang makan sepi, dan saat didalam gedung tadi, sepertinya kami diterima, layaknya kami adalah bagian dari acara tersebut.

Hmmmmm.. benar-benar pengalaman yang mengesankan sekali. Selama ini sudah sangat sering melihat Gedung Sate, dan sudah beberapa kali berfoto di depannya, namun baru sekali ini menjajal dalam gedung tersebut.

Gimana guys, kepanjangan ya ceita aku,, tapi seru ya kaaannn.. So, make some noiiiissseee guys....

Toilet Wanita di Lantai Dasar Gedung Sate


Thanks for reading..
Always Riezchi here,,
See ya....